Hari Raya Tentang Gaya dan Rupa

Hari Raya Tentang Gaya dan Rupa

Terkadang kita mudah tergiur ketika melihat sebuah model iklan yang sedang bergaya dengan busana yang kekinian berpadu rupa yang indah dan menawan. Seakan kita juga ingin seperti itu. Ingin memakai apa yang dikenakan, ingin juga memiki rupa yang seperti itu pula. Kita biasa menemui hal itu dimana?, di televisi?, di sebuah online shop?, di media sosial?. Dimana-mana dapat ditemui hal serupa diatas. 

Ketika menjelang hari Lebaran apa yang biasa menjadi rutinitas kalian?. Untuk masyarakat Indonesia sendiri tentunya akan membeli perlengkapan untuk hari Raya. Perlengkapan apa?, perlengkapan untuk solat Idul Fitri tentunya, yakni mukenah, sarung, celana,  peci, baju muslim,  dan lain lain. 

Entah kenapa hati berasa berdebar-debar ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri, entah karena takbir yang selalu dikumandangkan ketika malam takbiran berlangsung atau karena ingin segera bersilaturahmi dengan sanak, saudara, tetangga, dan lainnya. 

Jika berdebar karena sebab itu sudah biasa, bagaimana jika hati berdebar menyambut hari Raya Idul fitri karena ingin segera memakai busana dan perlengkapan yang telah dibeli supaya tampil menawan dengan banjir pujian?. Terlebih ketika memakai busana di depan dia, orang yang sudah lama ditaksir, berharap dia memberi sebuah pujian, komentar atau hanya sekedar memberi senyum dengan isyarat tanda suka. 

Tentunya entah sadar atau tidak sadar, pernah sedikit atau banyak terbesit perasaan ingin dilihat oleh orang lain, ingin memperoleh banyak pujian atas apa yang kita kenakan ketika Lebaran tiba. Kita telah berangan-angan terlalu jauh, berharap yang belum pasti. 

Jika hanya soal busana dan rupa yang ingin mendapat pujian dari orang lain, kenapa harus menunggu Lebaran untuk mempersiapkan itu semua?. Bukankan busana dapat dibeli setiap saat? Bukankah jika ingin rupa yang berseri tidak harus menunggu lebaran tiba?, bukankah setiap hari sudah melakukan perawatan muka menggunakan skincare untuk membuat rupamu berseri, dan kenapa harus menunggu Lebaran tiba?, kalian harus rela membeli banyak barang yang sejatinya bisa dibeli setiap saat tanpa harus menunggu Lebaran,  kenapa?. 

Saya pernah mendapat teguran atas perilaku diatas oleh Ayahanda saya. Kurang lebih seperti ini tegurannya,  "Buat apa beli banyak-banyak baju?, baju yang kemarin mau dikemanakan, Nak?. Baju yang kemarin dibeli masih bagus,  dan masih layak untuk dipakai bersilaturahmi. Yang terpenting itu bajunya rapi, suci bersih,  dan layak digunakan. Jangan banyak melihat model yang kekinian, model itu sangat sering berubah. Coba kamu bayangkan ada saudara kita yang jauh disana tidak bisa merasakan hal yang kamu banggakan seperti ini, beli baju banyak-banyak, beli aneka macam perlengkapan yang semuanya hanya dipakai di hari raya saja, saudara kita disana belum tentu bisa seperti kamu. Lebaran digunakan untuk banyak bersyukur bukannya menjadi kufur nikmat seperti ini Nak. Nikmat yang diberikan Alloh SWT ini digunakan sebaik mungkin, ingat ya Nak,  Lebaran itu bukan ajang untuk pamer apapun. Sia-sia Ramadanmu jika di hari Lebaran kamu menjadi manusia seperti ini".

Saya benar-benar malu ketika mendapat teguran seperti ini dari Ayahanda. Pada saat itu uang yang saya belanjakan untuk keperluan Lebaran berasal dari uang ayahanda. Saya baru teringat, bagaimana Ayahanda saya nanti jika ditanya oleh Alloh untuk apa uangmu di dunia dulu?. Bagaimana ayahanda dapat menjawab pertanyaan itu, sedangkan sang Anak seperti ini sikapnya. 

Ternyata Lebaran itu hanya butuh jiwa yang putih, bukan hanya baju yang putih. 

Butuh jiwa yang siap memaafkan orang lain, bukan jiwa yang hanya ingin dipandang besar karena orang lain.

 Lebaran itu kembali ke suci, dan kembali ke fitrah,  bukan saling benci karena busana. 

Lebaran itu sebagai nikmat dari Alloh, saling mengunjungi sanak, saudara yang telah lama tidak berjumpa, dengan cara menyambung lagi tali silaturahmi antar saudara. 

Sekian. 

Mohon maaf jika terdapat salah kata, atau jika ada yang merasa tersinggung. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Dibolehkan, saling menasehati dalan hal kebajikan. 

Terima kasih 

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
 #BERSEMADI_HARIKE-11

Komentar