Ramadan Adalah Bulannya Menahan
Ramadan Adalah Bulannya Menahan
Berbicara seputar bulan Ramadan, sudah tidak asing. Apa yang kita tau tentang bulan Ramadan?, bulannya orang yang berpuasa. Benar sekali, berpuasa!. Apakah puasa itu?, menahan makan dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tidak hanya menahan makan dan minum, kita juga disuruh menahan hawa nafsu.
Sewaktu kecil untuk menahan lapar dan minum sangat sulit, mudah sekali tergiur bila makanan dan minuman tampak di depan kita. Mungkin pernah diam-diam minum seteguk air, lantaran sangat haus tidak tertahan. Diam-diam pergi kedapur buka lemari pendingin ambil air dingin ataupun camilan. Padahal sewaktu kecil, kita sudah diajarkan oleh orang tua, atau guru di sekolah bahwa, "Alloh Maha Mengetahui segala perbuatan yang kita lakukan, walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi sekalipun". Seperti penggalan lirik lagu dari penyanyi Tulus yang berjudul "Gajah, "Kecil kita tak tahu apa-apa, wajar bila terlalu cepat marah, kecil kita tak tahu apa-apa yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik".
Semakin bertambahnya usia sedikit lebih memahami arti puasa, sewaktu kecil pemahaman puasa adalah menahan makan, minum, dan hawa nafsu dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Setelah paham maknanya kita harus praktik secara nyata. Kuat dan bisa menahan makan-minum, praktikan juga untuk menahan hawa nafsu, terutama yang mudah sekali tersulut emosi, belajarlah untuk mengendalikannya. Cara yang saya lakukan adalah ingat selalu bulan ini bulan Ramadan, ingat jika sekalinya saya marah pahalanya akan gugur sedikit, jika saya sampai marah-marah habislah semua pahala saya. Lanjut, jika telah terlanjur marah, lekas beristighfar, supaya segera tercatat oleh malaikat sebagai amal baik, jika masih marah segera pergi ke kamar mandi untuk berwudu, filosofinya jika api disiram pakai air, maka apinya padam, seperti itulah guna berwudu, jika masih marah coba rebahkan badan dengan memejamkan mata, dan jika masih berbekas rasa marah itu, maka sholatlah dilanjut baca Al-qur-an, in syaa Alloh dapat meredakan rasa marah atau emosi. Seperti itulah pelajaran yang saya dapatkan dan coba saya praktikan sampai saat ini.
Tidak hanya hawa nafsu seperti amarah yang harus ditahan, malainkan menahan ghibah, ini salah satu perbuatan yang dapat mengurangi pahala juga. Ghibah atau bergosip atau menggunjing adalah perbuatan membicarakan kejelekan seseorang kepada orang lain, atau membicarakan hal yang belum pasti dari orang ke orang lain. Perbuatan ini sering dilakukan sadar ataupun tanpa sadar. Mulut sangat ringan sekali membicarakan keburukan orang lain, namun kita tidak sadar bahwa kita sedang membuka aib kita sendiri, na'udzubillah. Terkadang gosip dijadikan ajang bahwa sesorang itu serba tahu akan informasi baru, tapi belum tahu akan kebenaran informasi tersebut, maka di Islam dikenal dengan tabayyun atau tanya kebenaran dahulu ke sumbernya, bukan dengan kita mengira-ngira sendiri informasi tersebut, bisa saja setan sedang membisikkan informasi yang salah. Tapi untuk kasus ghibah di zaman sekarang sudah lebih canggih, tidak perlu datang ke sebuah perkumpulan untuk memulai bergosip, tidak perlu pakai mulut jika hendak bergosip. Pakai grup chating sebagai tempatnya berkumpul. Jari jempol sebagai ganti mulut untuk berbicara. Masyaa Alloh, seharusnya kemudahan teknologi pada zaman sekarang digunakan lebih bijak dan arif oleh penggunanya. Zaman sekarang bukan hanya harus jaga lisan, melainkan juga harus jaga jari jempol.
Jadi pada bulan ini semuanya wajib ditahan, termasuk alat indera yang kita punya. Mulai dari mata, hidung, telinga, tangan, hingga kaki. Masa pandemi sekarang, semua orang di suruh dirumah, semua aktifitas dirumah. Tidak jarang rasa bosan menghampiri, sebagai obat pengusir rasa bosan, kita gunakan gadget. Pergunakan gadget dengan baik. Menonton tayangan yang bermanfaat, tonton kajian online, dengar murrotal Al-qur-an. Atau dapat melakukan aktifitas bermanfaat lainnnya, memasak, olahraga di dalam rumah. Apapun hal yang bermanfaat asalkan dapat mengusir rasa bosan.
Saya ingat sebuah kata di ayat Al-qur'an, Surat Ya-sin: ayat 65, berbunyi, Allah SWT berfirman:
al-yauma nakhtimu 'alaaa afwaahihim wa tukallimunaaa aidiihim wa tasy-hadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun.
Yang artinya: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Pernah tahu penggalan lagu dari seorang penyanyi legendaris Indonesia yang karyanya sangat bagus sebagai bahan pembelajaran bagi diri ini, sebagai manusia yang penuh kesalahan dan bukan Dzat Yang Maha Sempurna, yaitu karya dari Alm. Chrisye, berjudul "Ketika Tangan dan Kaki Berkata", begini penggalan lagunya, "Akan datang hari mulut dikunci, kata tak ada lagi, akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita. Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya, berkata kaki kita, ke mana saja dia melangkahnya".
Mendengar penggalan ayat Al-qur'an dan lagu, hati ini berasa teriris. Bagaimana tidak?. Apapun yang kita kerjakan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban. Masya Alloh, semoga kita terhidar dari panasnya api neraka.
Semoga tulisan ini sebagai pengingat diri sendiri, maupun bagi sahabat pembaca. Manfaatkan bulan ramadan 1441 H ini sebagai ladang kita menabung amal. Ada sedikit pantun dari saya
Selagi #dirumahaja kita maksimalkan ibadah
Agar tidak sia-sia
Belajar bersama kita lebih terarah
Kelak bisa masuk surga bersama-sama
Sekian terima kasih, semoga bermanfaat.
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-2
Komentar
Posting Komentar