Ramadan Bersamamu

Ramadan Bersamamu

      Bicara soal long distance relationship (LDR), atau hubungan jarak jauh, begitulah kami anak millennial menyebutnya, pasti kalian pernah merasakannya. Entah dengan siapa kalian merasakan hubungan jarak jauh itu. Bagaimana rasanya kawan?, sudah merasakan rindu,  belum?. Namun untuk zaman yang sudah canggih seperti ini,  teknologi yang sangat mendukung. Sejauh apapun kalian berada, dapat dijangkau dengan teknologi ini, bisa lewat handphone, tablet, maupun laptop. Jika mulai rindu, buka handphone, pilih aplikasi vidio call, lepaslah rindu itu dengan jumpa dengannya lewat satu genggaman teknologi. Mudah sekali bukan?. 

      Lain halnya jika sedang rindu, orang yang akan kamu temui lewat vidio call tidak dapat berjumpa. Bukan karena orang tersebut sangat sibuk, bukan karena signal provider yang sedang bermasalah, melainkan karena orang itu tidak dapat menggunakan teknologi itu,  dengan kata lain gagap teknologi (gaptek). Bagaimana dengan kasus tersebut?. 

      Izinkan saya berbagi sebuah kisah nyata, bagaimana orang itu menahan rindu. Dia tidak bisa menggunakan teknologi di zaman secanggih ini dengannya. Salah satu cara orang itu harus bertemu, dan menemuinya. Sebenarnya, teknologi itu memudahkan  untuk mempertemukan dua orang yang saling berjauhan tempatnya, namun di sisi lain hal ini menurutnya berasa menjauhkan, bagaimana tidak,  hanya bertatap muka lewat vidio call, tanpa dapat menyentuhnya, dan tidak dapat memeluknya. Terkadang bila mereka sedang rindu, mereka gelar sajadah, berdoalah mereka diatas sajadah itu. Menumpahkan semua rasa kerinduannya, mendoakan satu sama lain. Sungguh cara terindah menyampaikan rasa rindu mereka. 

      Kisah ini dialami oleh seorang anak dan ibunya. Sang anak sedang menempuh pendidikan tinggi di kota, sedang ibunya berada di desa,  bersama satu orang cucu dari kakak sulungnya. Si anak di kota bersama ke- 3 orang kakaknya, kakak-kakaknya telah bekerja dikota, meninggalkan ibunya yang di desa sendiri. Begitu baiknya si ibu memberikan restunya, dan selalu mendoakan anak-anaknya. Intensitas bertemu langsung hanya 1 bulan sekali, atau bisa sampai 2 bulan tidak berjumpa. Terkadang si anak iri dengan teman-temannya yang setiap saat bisa berkomunikasi dengan orang tuanya lewat telepon. Tapi sisi hangat anak itu tersentuh tiba-tiba, lantas hatinya diajak untuk terus bersyukur  akan keadaanya. Dalam hati si anak berdoa, "Ya Alloh aku sedang rindu ibu, sampaikanlah rasa rindu ini kepadanya,  jaga dan lindungilah ibu disana, berilah ia kesehatan selalu", di tutup dengan kata aamiin. Hatinya hangat, bibirnya tersenyum melihat teman-temannya penuh rasa syukur. Hati anak ini sangat mudah goyang ketika melihat sebuah peristiwa yang melintas dimatanya, sepertinya anak ini memiliki hati yang lembut, mungkin mirip seperti hati ibunya. 

       Ketika bertemu pun hanya memiliki durasi waktu 1 hari 2 malam saja, dimana waktu itu harus dimanfaatkan anak dan ibu itu saling terus meretas rasa rindunya. Sang ibu bercerita bahwa,  beliau pun merindukan anaknya, tak pernah sedikitpun ibunya meninggalkannya, setiap saat berdoa untuk anak-anaknya di kota. Apakah semua yang bergelar ibu seperti ini hatinya?,  sangat lembut terasa. 

       Pernah suatu ketika dalam hati anak itu,  ia berkata, "Akankah aku dapat terus bersama ibu, disisinya setiap hari tanpa harus meretas rindu seperti ini setiap harinya?". Kata-kata itu terlintas di dalam hatinya, pikirnya hanya kata-kata biasa saja bukan sebuah doa khusus,  tapi Alloh tau sekali isi hati setiap hamba-Nya. Entah kenapa di bulan Ramadan tahun ini seakan kata-kata itu menjadi kenyataan. Si anak terus bertanya dalam hatinya,  "Apa ini nyata?, tapi kenapa harus pada situasi pandemi seperti ini aku harus bertahan dengan ibu?, apa rencana Alloh ini?,  jalan apa yang sedang Alloh siapkan untukku?". Dia teringat sebuah potongan ayat di Al-qur-an, maupun potongan kata-kata di hadist, " Alloh bersama orang-orang yang sabar", "Doa adalah senjata orang mukmin", "Bersyukurlah pada-Ku,  maka akan kutambah nikmatmu". Dia terus menyeimbangkan hatinya dengan kenyataan yang ada. Sebagai seorang anak yang telah beranjak dewasa, ia ingin melindungi ibunya, menjaganya, seperti dirinya dulu bayi. Tidak mungkin bila si anak akan menangis di depan ibunya, ia ingin terlihat lebih kuat melebihi besi ataupun batu. Tetap tegar. Bagaimana tidak?,  ia sekarang berada di desa bersama ibunya, dan satu ponakan dari kakak sulungnya, sedangkan kakak-kakaknya berada di kota, dan kemungkinan besar tidak dapat menikmati kebersamaan ketika Hari Raya Idul Fitri tahun ini. 

        Semoga kisah ini memberikan kita kekuatan menghadapi pandemi ini bersama-sama. Percayalah Alloh sedang menyiapkan hal terindah untuk kita semua setelah pandemi ini selesai. Selalu lah kita ber-husnudzon (berbaik sangka) kepada Alloh. 
Sekian. Semoga bermanfaat, ambil setiap hikmah di dalam kisah ini. Mohon maaf jika terdapat kekeliruan kata-kata.  Terima kasih 

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-3

Komentar